Kehidupan dan Kehangatan
Juni 26, 2007
from:http://belajarbersy ukur.wordpress. com
Perjalanan pulang ke rumah yang sama sekali tidak lepas dari kemacetan
membuat aku dan istriku mengobrol tanpa henti sepanjang jalan. Setelah
beberapa lama ngalur ngidul, istriku yang kedinginan mengarahkan jendela AC
ke arah lain sambil membelai perutnya sembari berkata kepada calon momongan
kami, “Aduh dingin Dek. Kamu enak di dalam aja deh, anget. Di luar tuh
macem-macem, ada dingin, anget, panas juga.”
Mendengar itu, kepalaku serasa tertetesi air hangat yang kemudian mengalir
ke sekujur tubuhku. Demi merasakannya, sebuah pertanyaan muncul dalam
benakku, “Mengapa Tuhan menciptakan rahim yang hangat untuk menyiapkan bakal
manusia? Mengapa bukan dingin, panas, atau biasa saja gitu?”
Well, aku memang jauh dari seorang ahli masalah kedokteran seperti ini,
karenanya aku akan memandangnya dengan pemahaman sederhana yang kupunya saat
ini.
Hmm…hangat. Tidak seperti kata yang lain, kata yang satu ini seolah memiliki
efek yang magis bagi kehidupan. Mencermati kalimat-kalimat berikut ini, aku
pun mulai merasa tercerahkan:
“Suasananya hangat ya. Aku suka deh kerja di sana.”
“Wah, sambutannya hangat sekali. Dia memang orang yang baik ya.”
“Eh, flu ya. Ayo, minum yang hangat-hangat. “
‘Hangat’ memang seolah memiliki hubungan erat dengan kehidupan. Pada kalimat
pertama, suasana yang ‘hangat’ seakan-akan mampu menumbuhkan koneksi antara
seorang *new comer* dengan tempat kerja yang baru pertama kali diinjaknya.
Mirip dengannya adalah kalimat kedua, yang lebih jauh dari menimbulkan
koneksi, tapi juga memunculkan efek emosional yang impresif dan menurutku
akan awet dalam jangka panjang. Begitu pula dengan kalimat yang ketiga.
Meskipun dengan konteks yang sedikit berbeda, kata ‘hangat’ dalam kasus ini
juga menjadi sumber kenyamanan dan kesembuhan karena kemampuannya
menetralisasi efek dingin yang terasa berlebihan ketika flu.
Hmm…hangat. Ia istimewa karena berada di tengah. Ketika sesuatu terasa
‘panas’, ia harus didinginkan agar tidak meledak-ledak. Tapi ‘dingin’ yang
terlalu dingin juga akan menghilangkan ‘nyawa’ dan karenanya kehidupan pula.
‘Panas’ memunculkan kecenderungan dominasi, sedangkan ‘dingin’ akan
membiarkan diri terkulai pasrah tak berdaya dalam kesendirian.
Wah, kok berakhir pada keseimbangan lagi yah? Kehidupan muncul karena
kehangatan. Bagaimanapun ‘panas’ dan ‘dingin’ dibutuhkan, kehangatan lah
yang membuat keberlangsungan hidup tetap terjaga.
Mau menjadi seorang yang penuh kehangatan?
Entry Filed under: Artikel. .













Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed